JituBerita - Sebuah postingan penulis yang juga sebagai aktivis muda Nahdlatul Ulama (NU) bernama Kalis Mardiasih, di akun Facebooknya menjadi viral dan jadi perbincangan di media sosial. Dalam postingannya, Kalis yang juga tinggal di Solo semasa kuliah di UNS ini menanggapi postingan dari Ustaz Felix Siauw, di Instagram milik @felixsiauw. Postingan tersebut di lakukan pada hari Jumat (5/5/2017) pukul 17.00 WIB, postingan gadis asal Blora ini sudah dibagikan setidaknya 468 kali. Dalam postingannya ini, Kalis menyampaikan tanggapannya atas pendapat dari Felix.
Berikut ini selengkapnya postingan Kalis dan berdialog dengan Caption Instagram Pak Felix Siauw sebagai berikut:.
1. Karena Islam adalah ancaman dan musuh bagi kezaliman dan kesewenang-wenangan, ketidakadilan dan penjajahan, maka bagi mereka yang sudah berbuat jahat berarti Agama Islam itu berbahaya.
[Jawab: Islam itu adil rahmat bagi semesta alam. Bagi yang mengoyak Islam seperti, adu domba, nafsu berkuasa, kejumudan umat Islam yang tidak mengembangkan ilmu pengetahuan. Kemudian, kalau sedang kalah dan terdesak sebab tidak mengembangkan wacana politik, ekonomi dan pengetahuan, seharusnya tidak merasa terus terzalimi, tetapi malu dan koreksi diri kenapa kok yahudi dan kafir itu cemerlang-cemerlang]
2. Ini yang dirasakan oleh mereka yang tidak suka kepada Agam Islam, lalu berusaha singkirkan Islam lewat para pengembang dakwaannya, dengan mengkriminalisasi para ulamanya
[Jawab: Islam itu yang berkeadilan dan memajukan peradaban lewat ilmu pengetahuan menyejahterakan umat manusia. Ulama juga tidak bebas hukum ketika bersalah.]
3. Lihatlah citra yang ingin dibentuk, bahwa siapapun yang berpikir dan berbuat berdasarkan Agama Islam, akan dikesankan sebagai orang yang radikal, ekstrim dan berpotensi teroris
[Jawab: Yang memahami Agama Islam itu ajarannya baik sebagai alat kekuasaan, atau doktrin yang menyerang dengan cara kekerasan memang layak disebut radikal, ekstrim, dan teroris.]
4. Sementara mereka yang tidak menginginkan Agama Islam, selalu saja mereka disebut-sebut dengan pro-kebhinekaan, keberagaman, toleran, pancasila, nasionalisme, dan pro-NKRI
[ Jawab: Definisi Islam Indonesia itu di dalam konteks politiknya adalah memang Agama Islam yang selalu pro-kebinekaan, keberagaman, toleran, pancasila, nasionalisme dan pro NKRI.]
5. Kampanye si penista agama menjadi buktinya, bagaimana mereka yang tidak suka dengan Agama Islam membuat kesan "Kalau kamu beragama Islam, berarti kamu itu radikal dan ekstrimis"
[ Jawab: Tidak semua umat sepakat istilah penista agama. Belakangan ini, istilah penista agama dan kofar-kafir kok malah dijadikan pop culture baru, enteng sekali ngomongnya ya. Mereka lah yang tidak sepakat Agama Islam dipolitisasi atau dijadikan sebagai alat untuk memenangkan politik yang identitas, tidak sama dengan yang tidak suka Islam.]
6. Dan sebaliknya, "Kalau kamu itu toleran, pancasila dan pro-NKRI artinya kamu harus dukung penista agama donk". Karena Itu yang diulang-ulang dalam berbagai kesempatan
[Jawab: Istilah penista agama sedari awal begitu provokatif. Logika toleran, pancasila dan pro-NKRI memiliki konteks luas, tidak hanya dijadikan sebagai alat legitimasi dengan istilah ini.]
7. Itu yang menjadi inti pesan dalam kasus penistaan agaman "Jangan mau dibodoh-bodohi pakai Al-Qur'an, atau seolah-olah mengatakan Jangan pakai agama dalam kehidupanmu!". Jelas.
[Jawab: Peristiwa itu terjadi dalam nuansa yang begitu politis. Sekarang ini menjadi sumber adu domba sedang diproses secara hukum.]
8. Maka saat semangat umat Islam bangkit, nyatanya ditunjukkan lewat aksi #BelaQuran 411 dan 212, mereka yang benci dengan Agama Islam dan munafik komplotannya lalu gerah
[Islam harusnya bisa bangkit dengan demokrasi sehat, politik & ekonomi berkeadilan, juga kemajuan pengetahuan yang berdampak baik bagi umat manusia dan alam raya, serta menuntaskan persoalan-persoalan di mana Allah tidak lagi membatasi untuk umat tertentu, seperti kemiskinan dan kebodohan]
9. Mulailah mereka dengan pengaruhnya mengarahkan ke opini, bahwa aksi ummat #BelaQuran itu motif politis, anarkis, ekstrimis, dibayar, jakat, makar, dan harus segera di bubarkan
[Jawab: Sekali atau dua kali bolehlah bela Islam. Tapi spektrum makin melebar. Daerah-daerah lain yang adem ayem ini di tambah dengan perekonomian yang stabil dan tradisi masyarakat yang baik dan damai ikut dipanasi. Proses hukum tersebut tidak dihargai, dan memang banyak sekali ujaran berbau makar.]
10. Tidak hanya itu, Para ulama-ulama mulai dikiriminalisasi dengan alasan yang dibuat-buat, dibesar-besarkan, dikarang-karang, agar umat manusia ini tidak bangkit ke Agam Islamnya
[Jawab: Bukti-bukti bagi mereka yang sudah bersalah pasti terlihat jelas di muka bumi ini. Toh, Ulama yang tidak politis, tidak ikut ribut, ulama yang fokus mengembangkan ilmu lewat pengajaran dan pendidikan yang baik, juga mereka yang berkiprah dalam demokrasi dengan cara-cara elegan, jumlahnya lebih banyak dan tidak dikriminalisasi.]
11. Mereka lupa bahwa kebangkitan Agama Islam itu bukan sebuah hajatan melainkan hajatannya Allah. Cahaya Allah akan disempurnakan walau mereka yang tidak menyenanginya
[Jawab: Allah tidak butuh hajatan apapun. Kita ini hanya memohon-mohon berkah dan kasih sayang Allah, dan Allah mendengar masing-masing diri, tidak pakai hajatan. Kebangkitan Islam yang adil terwujudnya sebuah kehidupan yang baik bagi semua umat manusia. Allah juga menciptakan semua perbedaan.]
12. Mari kita sampaikan kembali pada hari ini, bahwa kita masih terus #BelaQuran, apapun kata mereka, kita akan tetap ada di jalan dakwaan ini sampai kapanpun juga
[Jawab: Iya kalo sekali dua kali bolehlah. Tapi kalo nggak uwis-uwis itu menimbulkan kecemasan. Selanjutnya bela Qur'an dengan cara yang dilakukan tidak teriak-teriak terus. Capek tau :)]
13. Sudah ah


0 komentar :
Posting Komentar